Industri Keramik Siap Ngebut 2026, Produksi Tembus 537 Juta Meter Persegi

Senin, 12 Januari 2026 | 10:51:43 WIB
Industri Keramik Siap Ngebut 2026, Produksi Tembus 537 Juta Meter Persegi

JAKARTA - Optimisme pelaku industri keramik nasional kembali menguat seiring membaiknya kinerja produksi dan meningkatnya permintaan pasar domestik.

Memasuki tahun 2026, industri ini menargetkan pemulihan yang lebih solid, tercermin dari rencana peningkatan tingkat utilisasi dan volume produksi yang cukup agresif dibandingkan tahun sebelumnya.

Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki) memproyeksikan tingkat utilisasi industri keramik nasional pada tahun 2026 akan mencapai 80%. Target tersebut menjadi sinyal kepercayaan diri pelaku usaha terhadap prospek industri, setelah melalui berbagai tantangan sepanjang beberapa tahun terakhir.

Ketua Umum Asaki Edy Suyanto menjelaskan, dengan asumsi tingkat utilisasi tersebut, volume produksi keramik nasional diperkirakan meningkat sekitar 13,17% menjadi sekitar 537 juta meter persegi (m²). Menurutnya, tren pemulihan sudah terlihat sejak akhir 2025, yang menjadi pijakan utama dalam menyusun target tahun ini.

Edy menyampaikan bahwa pada kuartal IV-2025, rata-rata tingkat utilisasi industri keramik menunjukkan perbaikan secara bertahap. Pada Oktober 2025, utilisasi tercatat sebesar 75%, kemudian naik menjadi 76% pada November, dan kembali meningkat ke level 78% pada Desember 2025. Pergerakan tersebut memperlihatkan momentum pemulihan yang konsisten.

Bahkan, Asaki menilai tingkat utilisasi berpeluang menembus angka 90% apabila permintaan dari pasar domestik meningkat secara signifikan. Pasar dalam negeri hingga kini masih menjadi tulang punggung industri keramik nasional, mengingat kontribusi ekspor relatif kecil, yakni sekitar 3% hingga 4% dari total produksi.

Dalam konteks permintaan domestik, Edy menyoroti peran Program 3 juta unit rumah yang dicanangkan pemerintah. Program tersebut dinilai memiliki dampak langsung terhadap penyerapan produk keramik nasional, terutama untuk kebutuhan lantai dan dinding bangunan.

“Asaki mengharapkan realisasi Program 3 juta unit rumah di tahun 2026, yang bisa mendongkrak kenaikan tingkat utilisasi produksi secara signifikan dari target 80% ke angka 96%,” terang Edy.

Kinerja 2025 Jadi Fondasi Optimisme

Optimisme Asaki bukan tanpa dasar. Sepanjang tahun 2025, industri keramik nasional berhasil mencatat perbaikan kinerja dibandingkan tahun sebelumnya. Rata-rata tingkat utilisasi meningkat dari 66% pada 2024 menjadi 73% pada 2025.

Peningkatan utilisasi tersebut berdampak langsung pada volume produksi. Sepanjang 2025, volume produksi industri keramik nasional bertambah sekitar 62 juta m² menjadi 474,5 juta m². Capaian ini mencerminkan pertumbuhan sekitar 15% dibandingkan tahun 2024.

“Sebagai catatan, Indonesia adalah satu-satunya negara produsen keramik baik di Asia, Eropa maupun Amerika yang mampu mencatat pertumbuhan tingkat utilisasi produksi dan kapasitas produksi pada tahun 2025,” kata Edy.

Menurut Edy, kinerja positif industri keramik pada 2025 tidak terlepas dari dukungan kebijakan pemerintah yang pro-industri. Sejumlah kebijakan proteksi dinilai efektif menahan laju masuknya produk impor yang selama ini menekan industri dalam negeri.

Kebijakan tersebut mencakup penerapan bea masuk anti-dumping, safeguard keramik, serta pemberlakuan Standar Nasional Indonesia (SNI) wajib. Langkah-langkah ini memberikan ruang bagi produsen lokal untuk meningkatkan utilisasi pabrik dan kapasitas produksinya.

Selain itu, kebijakan proteksi juga mendorong skema kerja sama Original Equipment Manufacturing (OEM) antara importir dan produsen keramik dalam negeri. Melalui skema ini, importir bekerja sama dengan pabrik lokal untuk memproduksi keramik dengan merek mereka sendiri, sehingga tetap memberikan manfaat bagi industri nasional.

Tantangan Masih Membayangi

Meski mencatat perbaikan, Asaki menilai tingkat utilisasi industri keramik pada 2025 masih belum sepenuhnya optimal. Angka tersebut masih berada dalam rentang target Asaki sebesar 70%–75%, dan belum mencapai potensi maksimal industri.

Salah satu tantangan utama yang disoroti Edy adalah persoalan pasokan dan harga gas industri. Pada pertengahan hingga akhir Agustus 2025, kondisi kahar (force majeure) menyebabkan pasokan gas di wilayah Jawa Bagian Barat tersendat.

Edy mengungkapkan bahwa rata-rata industri keramik di Jawa Bagian Barat yang menerima pasokan gas sesuai Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) sebesar US$7 per MMBTU hanya sekitar 60%. Sementara itu, di Jawa Bagian Timur, angkanya bahkan lebih rendah, yakni sekitar 50%–55%.

Untuk kebutuhan gas di luar kuota tersebut, industri harus membayar surcharge dengan harga sekitar US$15,4 per MMBTU. Kondisi ini memberikan tekanan besar terhadap biaya produksi dan daya saing industri keramik nasional.

Dari sisi eksternal, gangguan produk impor juga masih menjadi tantangan serius. Asaki mencatat adanya lonjakan impor keramik sepanjang 2025, terutama dari Malaysia yang meningkat sekitar 210%, disusul India sebesar 55% dan Vietnam sebesar 32%.

Menanggapi hal tersebut, Asaki berencana bekerja sama dengan Komite Anti Dumping Indonesia (KADI) untuk menginisiasi penyelidikan dumping terhadap produk keramik asal India. Selain itu, Asaki juga tengah mengumpulkan data terkait dugaan praktik transhipment produk China melalui Malaysia.

Tantangan lain yang tak kalah penting adalah kelancaran pasokan bahan baku, khususnya tanah liat, yang menjadi komponen utama produksi keramik. Pasca pencabutan sejumlah izin di Jawa Barat, ketersediaan bahan baku dinilai perlu mendapatkan perhatian lebih dari pemerintah.

“Asaki juga membutuhkan perhatian Pemerintah perihal kelancaran dan kecukupan bahan baku tanah untuk produksi keramik,” tandas Edy.

Dengan berbagai peluang dan tantangan tersebut, industri keramik nasional memasuki 2026 dengan harapan besar, namun tetap dibayangi pekerjaan rumah yang membutuhkan sinergi antara pelaku usaha dan pemerintah.

Terkini